(diinspirasi oleh perkataan Abu’Abdillah’Umar -semoga Alloh memberkahi beliau-)
“Sekarang zaman telah benar2 terbalik…coba perhatikan Firman Alloh (artinya),“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Alloh akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Alloh Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.”{QS.Annuur:32}
Ayat ini merupakan dalil anjuran menikahkan orang fakir, bahkan ‘Umar bin Khoththob rodhiyallohu’anhu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang fakir namun tidak mencari kekayaan dengan menikah, berdasarkan firman Alloh (artinya),
“Jika mereka miskin Alloh akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Alloh Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.”
*sekarang dunia telah berbalik, cara berfikir pun berbalik, jika shahabat’Umar rodhiyallohu’anhu berkeyakinan bahwa “Carilah kekayaan dengan menikah.” namun orang sekarang berpendapat, “Carilah kekayaan UNTUK menikah.”
Al-Imam Ibnul Jauzy berkata;“Berhati-hatilah, wahai saudaraku! Janganlah karena kesibukan dengan ilmu anda tak pernah lagi mengamalkan apa yang anda ketahui. Sesungguhnya hal itu merupakan kelakuan para pemalas.
“Lakukanlah segala sesuatu dengan perlahan-lahan
masa depan hidupmu belum berpaling…
Takutlah akan serangan yang mendadak
hingga waktu seakan dilipat begitu cepatnya…
Jadikanlah dirimu sebagai tentara
yang terhimpun siap berlaga di medan perang…”“
{Terjemah “Shoidul Khotir” karya Ibnul Jauzy.}
*Berhati-hatilah, wahai saudaraku! Jangan anda hanya sibuk dengan ilmu pernikahan dan berumah tangga, hingga anda lupa untuk mengamalkannya.
Semoga Alloh memudahkan saudara-saudara ku yang ingin segera menikah dan menikah lagi…
By : Pustaka Ukhuwah Malang’s facebook status
Salahin aja terus pemerintah..
memang harus berkaca pada diri sendiri terlebih dahulu ya, sebelum …
1) Tingkat bahaya maksiat bertingkat-tingkat sesuai pelakunya. Pertama; yang bermaksiat sebab tak tahu ilmu & belum sampai hujjah padanya.
2) Maka yang demikian semoga Allah ampuni; terlebih jika datang ilmu padanya lalu dia bertaubat nashuha. Kedua; yang bermaksiat & tahu..
3) ..bahwa dia berdosa pada Allah; melakukannya dalam sunyi & rahasia; malu jika terbuka aibnya. Yang demikian moga tertuntun taubatnya.
4) Yang ketiga; tahu bahwa ianya dosa; tapi bermaksiat dengan terang-terangan; meski dalam hatinya ada galau menyiksa. Ini cukup berbahaya.
5) Yang ke-4; bermaksiat terang-terangan; mengumumkan & bahkan membanggakan dosanya. Ini lebih berbahaya lagi; kian kecil peluang diampuni.
6) Yang ke-5; bermaksiat terang-terangan, bangga akan dosanya, & mengajak-ajak orang lain untuk turut berbuat. Maka ini sungguh terlaknat.
7) Dan ke-6; yang paling nista; bermaksiat terang-terangan, berbangga, mengajak-ajak, & bahkan menyimpangkan agama tuk cari pembenarannya.
8) Na’udzu biLlah. Semoga Allah menjauhkan kita dari kemaksiatan walau hanya sedenyut nadi, setarik nafas, sekedip mata, & selangkah kaki.
Sebuah tulisan hikmah yang saya dapat dari sebuah milis. Semoga bermanfaat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang GURU yg sangat dihormati karna tegas jujur. Suatu hari, dua murid menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7.
Murid pandai mengatakan hasilnya 21, murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : “jika saya yang benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh GURU , tetapi jika kamu yang benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri., hua ha ha …..”, demikian si bodoh menantang sambil tertawa dengan sangat yakin dengan pendapatnya.
“Katakan GURU mana yang benar?” tanya murid bodoh. Ternyata GURU memvonis cambuk sepuluh kali bagi murid yang pandai (orang yang menjawab 21).
Si murid pandai protes. Sang GURU menjawab: “Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAKARIFAN-mu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3×7 adalah 21!!”
Guru melanjutkan: “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat satu nyawa terbuang sia sia!”
~~~~~~~~~~~~~
Pesan Moral:
Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya?
Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga/kolega. Berdebat atau bertengkar untuk hal yangg tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.
Ada saatnya untuk kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan? Memang bukan hal yang mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.
(Sumber : blog Pak Rinaldi Munir)